“Petik Laut” merupakan pesta besar dalam agenda tahunan masyarakat Situbondo.Dan sebagai wujud dari rasa syukur mereka, sehingga tiap bulan syuro mereka menggelar tradisi ritual “Petik Laut”. Bagi masyarakat pesisir Mimbo Kabupaten Situbondo. Dan tak heran lagi jika dana yang dikeluarkan bisa mencapai jutaan bahkan milyaran rupiah.
. Seperti halnya yang dilakukan komunitas
nelayan pesisir mimbo. Mereka menggelar ritual sebagai ungkapan syukur atas
rezeki dan keselamtan yang diberikan tuhan melalui alam, dan kini dipakai
sebagai satu wahana budaya dan tradisi masyarakat nelayan di Kabupaten
Situbondo dan menjadi sarana untuk menggali kembali berbagai potensi local.
Tradisi Petik Laut ini bisa dijadikan salah satu daya tarik
wisata di Situbondo
Ritual diawali pembuatan sesaji oleh sesepuh
nelayan. Disiapkan perahu kecil ( perahu sesaji ) dibuat seindah mungkin mirip
kapal nelayan yang biasa digunakan melaut. Pada malam harinya, di tempat perahu
untuk sesaji dipersiapkan dilakukan tirakatan
. Berisi berbagai hasil bumi, sejumlah
perhiasan dan kepala sapi untuk dilarung ke tengah laut
adapun jenis makanan berbagai jajanan, nasi tumpeng dan buah-buahan, ditata
rapi di perahu kecil tadi. Sesaji yang sudah jadi disebut Ghittek atau Sesajen.
Menjelang siang, sesaji di arak menuju pantai, biasanya arak-arakan berakhir di
TPI (Tempat Pelelangan Ikan).
Setelah doa, sesaji diarak menuju perahu. Warga berebut
untuk bisa naik perahu pengangkut sesaji. Namun, petugas membatasi penumpang
yang ikut ke tengah.
Menjelang tengah hari, iring-iringan perahu bergerak
ke laut. Bunyi mesin diesel menderu membelah ombak. Suara gemuruh lewat
sound-system menggema di tiap perahu. Dari
kejauhan barisan perahu berukuran besar bergerak kencang. Hiasan umbul-umbul
berkibar menambah suasana makin sakral. Begitu padatnya perahu yang bergerak,
sempat terjadi beberapa kali tabrakan kecil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar