Tradisi tajin safar (lak-olak)




Tradisi Tajin safar ini di laksanakan pada bulan safar. Safar atau Sappar merupakan sebuah nama bulan dalam kalender Hijriyah.Tajin safar oleh masyarakat madura bisa disebut Tajin lak-olak /tajin sappar atau juga tajin polor. Alasan orang madura menyebut tajin ini sebagai lak-olak karena isinya yang bahanya dari tepung beras yang dibentuk lonjong seperti ulat. Walaupun isinya banyak berbagai variasi yang dicampur kedalam tajin tersebut tapi isi utamanya yaitu sebuah lonjongan yang ada di dalam tajin tersebut. Orang-orang menambahkan untuk berbagai bahan yang bermacam-macam seperti mutiara dan bunga delima  ke dalam tajin safar/lak-olak untuk membuat hiasan tajin ini lebih menarik sehingga orang yang melihatnya tergoda ingin memakannya. Kekhasan tajin ini juga ada tambahan santan di taburi sebagai kuah sehingga rasa tajin safar ini selain manis agak asin sedikit di lidah kita.

Kebiasaan dari masyarakat yang ada di desa saat selesai membuat tajin ini yaitu masyarakat biasanya mengundang orang-orang sekitar rumahnya lalu mengadakan selamatan untuk bulan safar. Selain itu ,tradisi ini sebagai kegiatan sedekah dengan ikhlas tanpa mengharapkan apapun sekaligus wujud silaturahmi kepada tetangga sekitar. Kenapa bisa dikatakan wujud silaturahmi? Karena masyarakat selesai selamatan biasanya mereka memberikan (“ter-ater “dalam bahasa madura) tajin ini kepada tetangga sekitarnya dan keluarga dekatnya.


Tradisi biasanya kita sering jumpai di daerah Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi. Masyarakat di daerah tersebut masih menjaga kelestarian tradisi tajin safar ini yang mulai dahulu menjadi turun temurun dari nenek moyang kita.



By : Raudatul Hasanah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CIRI KHAS KOTA SITUBONDO “BUMI SHOLAWAT NARIYAH” (Oleh : Laili Rahmawati)

CIRI KHAS KOTA SITUBONDO “BUMI SHOLAWAT NARIYAH” (Oleh : Laili Rahmawati)             Situbondo adalah salah satu kabupaten y...